Mangrove dan Karbon: Sumbangsih Sumbawa untuk Dunia

Sebarkan:

"Sumbawa tidak berhenti memberi. Setelah sektor tambang. Kini, mangrove menjadi masa depan Sumbawa. Sumbawa tidak memberi hanya bagi dirinya. Sumbawa memberi untuk dunia"

Oleh: Dr. Najamuddin Amy, S.Sos.,MM 

(Mantan Pjs. Bupati Sumbawa 2024)


Pendahuluan: Ketika Menteri dan Rakyat Sama-Sama Menanam

Pada 7 Juli 2026, Menteri Lingkungan Hidup RI Mohammad Jumhur Hidayat berdiri di atas lumpur pesisir Sumbawa, menanam bibit mangrove bersama masyarakat, Pejabat Daerah, TNI, Polri, dan pegiat lingkungan dalam kegiatan bertajuk *Mangrove for Life*. Kehadiran Menteri bukan seremonial belaka. Di hadapan publik, ia menyampaikan fakta mengguncang: 30 persen hutan mangrove Indonesia sudah rusak 700 ribu hektare dari 3,4 juta hektare, luas yang setara gabungan Provinsi Banten dan DKI Jakarta.

Kehadiran PT Freeport Indonesia (PTFI) dalam agenda ini juga menarik. Perusahaan menargetkan rehabilitasi 2.000 hektare mangrove di luar Papua dan 10.000 hektare di Papua. NTB dipilih sebagai lokasi utama di luar Papua dengan realisasi 484 hektare (445 hektare di Kabupaten Sumbawa dan 39 hektare di Lombok Timur). Penentuan lokasi bahkan diverifikasi oleh Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebanyak 1,5 juta bibit mangrove ditanam, melibatkan 1.500 warga lokal dari pembibitan hingga pemeliharaan.

Pjs Bupati yang Disindir Menanam Mangrove hingga Gerakan Akar Rumput untuk Kondusifitas dan Lestarikan Pesisir

Gara-gara Mangrove Menteri LH datang ke Sumbawa. Walaupun masyarakat pesisir Sumbawa sudah menanam mangrove dari dulu. Salah satu pengalaman menarik datang dari masa penulis menjabat sebagai Pjs Bupati Sumbawa. Ada yang menyindir: 

Kenapa harus keliling tanam mangrove? Bukannya tugas Bupati hanya kawal Pilkada saja?

Jawaban saya sederhana: terlalu sayang waktu dua bulan hanya datang ke kantor dan pulang istirahat. Sebagai pelayan masyarakat dan Aparatur Negara, ada banyak waktu dalam 24 Jam untuk bertemu masyarakat dan mengajaknya produktif. Menjaga kondusivitas daerah bersama Forkopimda, Anggota DPRD, Kepala OPD, Camat dan Lurah serta Kepala Desa, bisa sambil mengecek fasilitas kesehatan, bersilaturahmi dengan guru dan kepala sekolah, bertemu marbot dan takmir masjid, serta berdialog dengan petani dan nelayan langsung di lokasi sambil menitipkan pesan menjaga lingkungan dan pesisir.

Aksi nyata pun dilakukan. J̌Pada 8 Oktober 2024, Pjs Bupati bersama Forkooimda memimpin penanaman 1.000 bibit mangrove di Pulau Bungin, Kecamatan Alas. Sepuluh hari kemudian, pada 19 Oktober 2024, penanaman kembali dilakukan di Labuhan Teratak, Lape, dengan 1.000 bibit mangrove, melibatkan elemen BUMN/BUMD, pemuda, mahasiswa, wartawan, pemdes, guru dan siswa-siswi sekolah setempat. Penanaman ini pun berlanjut di Labuhan Sawo, Pulau Kaung, dan Pantai Gelora. Lebih dari 4000 Pohon Mangrove di 5 Lokasi Penanaman.

Kegiatan ini bukan sekadar tanam-menanam. Di sela-sela penanaman, dilakukan pelayanan kesehatan gratis, penyaluran air bersih bagi masyarakat yang kekurangan air di musim kemarau, hingga peninjauan Tempat Pelelangan Ikan dan sentra produksi garam. Ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat adalah dua sisi mata uang yang sama. Jawaban yang sesungguhnya soal Mangrove pernah saya sampaikan dalam beberapa diskusi saat itu. 

Mengapa Mangrove? Daya Serap Karbon yang Luar Biasa

Pertanyaan mendasar: mengapa mangrove begitu penting? Jawabannya terletak pada blue carbon (karbon biru) yang tersimpan dalam ekosistem pesisir.

Ekosistem mangrove memiliki kemampuan menyerap CO₂  (4 hingga 5 kali) lebih tinggi dibandingkan pohon biasa. Bahkan, penelitian menunjukkan ekosistem karbon biru dapat menyerap hingga empat kali lebih banyak karbon per hektar dan menyimpannya 30–50 kali lebih cepat daripada hutan daratan.

Mengapa orang butuh karbon? Dalam konteks perubahan iklim, karbon dioksida (CO₂) adalah gas rumah kaca utama penyebab pemanasan global. Setiap aktivitas industri, transportasi, dan deforestasi melepaskan CO₂ ke atmosfer. Mangrove bertindak sebagai *carbon sink* penyerap dan penyimpan karbon alami. Tanpa ekosistem ini, emisi karbon akan terus meningkat, mempercepat krisis iklim yang dampaknya sudah kita rasakan: kenaikan permukaan air laut, abrasi, dan cuaca ekstrem.

Siapa yang membutuhkan karbon? Bukan manusia yang membutuhkan karbon, melainkan bumi yang membutuhkan penyerapan kelebihan karbon. Dalam konteks ekonomi, yang “dibutuhkan” adalah *kredit karbon*, unit yang diperdagangkan di bursa karbon bagi perusahaan yang perlu mengompensasi emisinya. Dengan kata lain, ekosistem mangrove yang sehat bukan hanya aset ekologis tetapi juga aset ekonomi.

Potensi Sumbawa: Garis Pantai 982 Km dan Peluang Karbon

Kabupaten Sumbawa memiliki panjang pantai kurang lebih 982 km dengan luas wilayah 10.475,7 km². Dari 24 kecamatan, 18 kecamatan adalah wilayah pesisir dengan 63 pulau-pulau kecil. Bayangkan potensi karbon dari garis pantai sepanjang hampir 1.000 km jika ditanami mangrove secara masif.

Kepala BEI Mataram, Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana, menilai NTB memiliki peluang besar masuk ke sistem perdagangan karbon melalui ekosistem mangrove dan hutan tropis. Kawasan hutan tropis di sepanjang bentang daratan Lombok dan Sumbawa berpotensi besar menyerap emisi karbon dan dikonversi menjadi unit karbon.

Karbon dan PAD: Peluang Ekonomi bagi Daerah

Apa itu karbon dan kaitannya dengan PAD? Karbon dalam konteks ini merujuk pada kredit karbon, Sertifikat yang mewakili pengurangan satu ton emisi CO₂. Ekosistem mangrove yang sehat dapat menghasilkan kredit karbon yang diperdagangkan di bursa karbon. Nilai ekonominya ditentukan oleh lembaga penghitung berdasarkan jenis vegetasi dan luasannya.

Bagaimana mekanismenya? Prosesnya panjang: penghitungan potensi emisi yang diserap, verifikasi dan validasi, hingga pendaftaran melalui sistem Kementerian Lingkungan Hidup. Setelah memenuhi syarat, unit karbon menjadi Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE GRK) yang bisa diperdagangkan di bursa karbon dengan mekanisme mirip perdagangan saham.

Harapan baiknya ke depan Pemerintah Provinsi NTB tengah menyiapkan BUMD khusus yang menangani *carbon trading*. Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal menegaskan bahwa pesisir NTB yang luas sangat potensial untuk pengembangan hutan mangrove guna menyerap emisi karbon dan mendukung target penurunan emisi nasional.

Begitu pula dengan Bupati Sumbawa, Syarafuddin Jarot, bahkan telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pemprov NTB terkait pengelolaan hutan. Melalui program Sumbawa Hijau Lestari, selama periode 2025–2026 Kabupaten Sumbawa telah menanam satu juta pohon melalui 13 kali safari penghijauan, melibatkan ASN, pelajar, hingga masyarakat yang melangsungkan pernikahan dengan kewajiban menanam pohon.

Refleksi: Menanam Sekarang, Memanen Nanti

Yang menjadi ironi adalah: orang bisa bicara konsep karbon dan kemanfaatannya, tapi lupa sumber karbonnya tidak ditanam dan dipelihara. Apalagi dijadikan program sederhana mulai dari tingkat desa sampai provinsi. Kita belum melihat keseriusan itu secara merata.

Penanaman mangrove di Sumbawa bukan sekadar kegiatan seremonial. Ini adalah investasi ekologis dan ekonomi untuk masa depan. Mangrove menahan abrasi, menjadi habitat biota laut, mendukung perikanan dan ekowisata, sekaligus menyerap karbon yang bisa diperdagangkan.

Menteri LH mengingatkan bahwa gerakan penanaman mangrove harus menjadi gerakan nasional : pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab bersama. Namun seruan moral tanpa kebijakan struktural dan penegakan hukum berisiko jatuh ke dalam jebakan simbolisme.

Pertobatan ekologis sejati menuntut keberanian politik, bukan sekadar seremoni. Masyarakat dan Elemen Pegiat Lingkungan Sumbawa telah menunjukkan langkah sejak awal, Dilanjutkan oleh Pjs Bupati yang keliling menanam mangrove di sela-sela tugas mengawal Pilkada. Dan saat ini gong besarnya menggema kolaborasi besar  PT Freeport dan Kementerian LH di Pesisir Sumbawa.  Kini saatnya menjadikan mangrove sebagai program prioritas dari tingkat desa hingga provinsi, bukan sebagai aktivitas sampingan.

Karena pada akhirnya, sumbangsih Sumbawa untuk dunia bukan hanya tambang—tapi pesisir yang menghijau, karbon yang terserap, dan masa depan yang terjamin bagi generasi mendatang. Dengan karbon mangrove kita bisa makmur dan kita bisa memberi untuk dunia.(**)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini